Bacon Double Cheeseburger

..and yes, this is my journal {bonus}


Niat Baik vs Insecurity

Halo, mau curhat. Pernahkah kamu dihadapkan pada kejadian dilematis, yaitu saat-saat di mana kamu ragu untuk melakukan perbuatan baik? Maksudnya gini, perbuatan baik itu terhalang bukan karena dari niat ikhlas atau tidak ikhlas, tapi dari timbulnya rasa insecurity

Saya cerita ya. Dulu pas saya masih kelas 1, ibu saya datang ke Jogja untuk beberapa hari untuk menjenguk saya & kakak, mumpung dinas juga. Suatu hari saat cuaca sedang tidak baik (hujan deras) ada seseorang datang kerumah hujan-hujanan. Seorang bapak yang kami sekeluarga juga tidak kenal. Alasan kedatangannya, mau menjual spring bed (dalam kondisi baik dan baru) dengan harga tak semahal toko karena dia dalam kondisi BU (Butuh Uang).

Ibu saya lalu ada niatan membantu, dan menyuruh bapak itu untuk datang esok harinya sambil membawa spring bed yang dimaksud. Esoknya, bapak itu memang datang dengan membawa mobil truk terbuka dan barang yang ia jual dengan ditutupi terpal. Cuaca saat itu hujan deras. Setelah ibu saya membayar, bapak itu langsung menurunkan barang yang masih ditutupi terpal, dan langsung pergi tanpa basa-basi. Setelah barang dimasukkan ke garasi dan dibuka bungkusnya. Ternyata, isinya bukan spring bed utuh yang di dapat, hanya salah satu bagian dari keseluruhan spring bed.

Wah ya sudah lah, toh niatannya membantu” begitu kata Ibu saya.

Belum lama, saat saya dan kakak sepupu saya mencoba sebuah rumah makan baru, ada seseorang yang tiba-tiba masuk ke resto itu (kebetulan pelanggannya hanya kami berdua) dan berbicara pada salah satu pegawai di resto itu. Setelah sempat berbicara (sepertinya menyepakati sesuatu) orang itu berdiri di depan meja tempat kami makan, dan izin untuk duduk di situ. Ya tentunya kami juga mempertanyakan tentang apa maksudnya, berhubung meja-meja lain kosong tanpa pelanggan seorang pun. Ternyata, dia menjual buku diskon dengan dalih BU juga. Dari ceritanya, saya pun tersentuh dan akhirnya membeli sebuah buku dengan harga 30 ribu. Saat itu kakak sepupu saya diam saja. Setelah orang itu berterima kasih dan pergi keluar restoran….

Saya bertanya, ”Kok tadi nggak beli?” lalu sepupu saya menjawab “Gak tau, kurang yakin aja. Takutnya ditipu lagi kayak yang dulu itu. Kalau saya sih, curiganya itu dari pameran yang di situ tuh” saya sih cuma menanggapi dengan bilang ”Ya kita ga bisa suudzon lah,”. Tapi toh kalau emang ditipu, sekali lagi, toh kita niat nya membantu. Dan semoga saja kita nya dapet pahala.

Dan kejadian terakhirnya adalah kemarin, saat saya pulang dari sekolah, di jalan kecil, dari arah berlawanan saya berpapasan dengan motor yang tiba-tiba menyetop saya. Motor itu membalik arah dan berhenti disamping motor saya. Seorang bapak-bapak tua yang membawa anak kecil (kira-kira umur 4 tahun) di tempat duduk depan. Bapak itu meminta maaf dengan bahasa jawa halus (yang saya juga tidak begitu mengerti apa maksudnya), lalu menceritakan masalahnya dengan pelan dan sopan, ia sedang mencari rumah seorang kerabat yang ternyata sudah pindah, padahal rencananya ia mau meminjam uang untuk mengambil obat untuk anaknya yang sedang sakit paru-paru dengan harga 75ribu rupiah. Dia bercerita bahwa dia belum membawa uang, saat itu saya sudah mengerti bahwa dia akan meminjam uang saya. 

Kali ini muncul rasa insecurity. Apalagi saat bapak itu sempat bertanya, “Rumah mbak dimana? Minggu besok saya gajian, dan nanti langsung saya kembalikan ke mbak” Saya makin takut dong. Itu gang sempit, dan tidak ada siapa-siapa di sekitar saya, tiba-tiba ada bapak-bapak minta uang, bahkan menanyakan rumah. Sempat terpikir juga, kalau saya mengeluarkan dompet lalu saya dirampok bagaimana? Kalau saya memberitau rumah dan besoknya dia datang lalu melakukan hal yang tidak menyenangkan bagaimana? Kalau ternyata uang saya tidak dikembalikan gimana? Akhirnya, saat itu saya memilih untuk bohong. Saya bilang, saya masih SMA dan di sini cuma ngekos. Dan saya belum dikirimin uang sama orang tua saya.

Anehnya, tidak seperti orang-orang yang biasanya melakukan kejahatan (tipe yang memaksa), bapak itu langsung meminta maaf, berterima kasih, dan tanpa meminta lagi, bapak itu langsung pergi. Seketika saya langsung merasa bersalah. Karena sepertinya KALI INI bapak itu memang benar butuh uang. Kalau begini kasusnya, perasaan mana coba yang harus didahulukan? Ada niat berbuat baik tapi bertabrakan sama rasa takut. Oke lah, kalau soal ditipu masih mending, hanya uang yang hilang. Tapi kalau tau-taunya ada kekerasan fisik? Bapaknya bawa pisau gitu? 

Apa saya harus ngikutin kata hati? Tapi kalau saya mau ngikutin kata hati juga susah. Ada saran guys? Via comment atau reply, thanks a lot.


Comments
blog comments powered by Disqus